Opini
Oleh : Matoridi,
Ketua Forum Tambang Rakyat Bersatu (FTRB)
Bangka Selatan, Adhyaksanews. -- --Timah adalah primadona sampai saat ini, mengingat masyarakat kita di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bergantung ekonominya dari sektor ini. maraknya Penertiban tambang rakyat saat ini membuat ekonomi Bangka Belitung terancam lumpuh, banyaknya warga yang sehari harinya mengais rezeki bergantung dengan tambang tungau/tambang rakyat yang berskala kecil mengadu nasibnya kepada kita karena tidak berani bekerja.
Inilah potret sedih wajah negeri Bangka Belitung saat ini, akibat kebijakan pusat yg melakukan penertiban tambang-tambang rakyat ilegal dihutan kawasan maka masyarakat Bangka Belitung terancam ekonominya secara massive. Padahal masyarakat kita adalah korban kebijakan dari kepmenhut 357 tahun 2004 yang menyatakan 65% lebih hutan di Bangka Selatan adalah kawasan hutan produksi dan hutan lindung,,sungguh ini adalah bentuk ketidakadilan dimata masyarakat Bangka Belitung. Karena kebun-kebun masyarakat kita tidak bisa dibuat sertifikat. sementara di Sumatera Selatan pelosok-pelosok desa tanahnya bisa disertifikatkan.
Sejak awal kebijakan ini pastii akan menimbulkan konflik horizontal antara masyarakat tambang, rakyat dan aparat. miris,,ketika negara sedang goncang dengan defisit anggarannya dan pemotongan-pemotongan Dau sehingga pembagunan tertunda dan masyarakat kita tidak bekerja dalam mencari penghidupan sehari-hari, demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anaknya, semoga para pemimpin negeri ini peduli dan berani mengambil sikap pro rakyat sehingga harapan masyarakat Bangka Belitung bisa berlanjut demi keluarganya,
Motiridi berharap, intinya, Kami berharap sebagai masyarakat tambang rakyat terlepas pusat memiliki visi besar tentang hilirisasi timah kedepan seyogyanya jangan mematikan usaha tambang rakyat kecil seperi tungau( Tambang Tungau) karena ini adalah harapan ekonomi rakyat kecil dalam penghidupan mereka sehari hari. tutup Matoridi.
