Senin, 15 Juni 2026

Pilkada Ulang Bangka Bukan Dagelan Politik.

Adhyaksanews. -- --  Bangka — Suhu politik jelang Pilkada Kabupaten Bangka 2025 mulai menghangat. Wajah-wajah baru bermunculan di berbagai sudut kota, terpampang besar di persimpangan jalan Sungailiat bahkam sampai tingkat pedesaan, untuk mencoba mencuri perhatian masyarakat. 

Fenomena ini tentu bukan hal baru, namun setiap pesta demokrasi selalu menyisakan pertanyaan lama, apakah para calon benar-benar siap memimpin, atau sekadar ikut-ikutan demi gengsi dan kekuasaan?

Saat ini, Kabupaten Bangka masih dipimpin oleh Penjabat (Pj) Bupati. Di tengah masa transisi ini, harapan masyarakat terhadap hadirnya pemimpin yang mumpuni justru semakin besar. Sayangnya, kemunculan para bakal calon kepala daerah tidak selalu dibarengi dengan rekam jejak dan kapasitas yang jelas. 

Sebaliknya, yang marak justru baliho-baliho besar, jargon bombastis, dan pencitraan yang tak henti-hentinya—sementara substansi soal visi, kompetensi, dan pemahaman pemerintahan sering kali luput dari sorotan.

Ironisnya, tak sedikit wajah-wajah baru bermunculan di baliho-baliho, Ambisi memang sah-sah saja dalam politik, namun yang menjadi pertanyaan: apakah mereka benar-benar sudah siap secara mental, moral, akademik, dan—yang paling penting—menguasai sistem pemerintahan yang kompleks?

Kabupaten Bangka bukan wilayah kecil. Membutuhkan pemimpin yang tak hanya populer, tapi juga kapabel. Sosok yang paham betul bagaimana birokrasi bekerja, bagaimana mengelola anggaran, menata kota, dan menjawab tantangan ekonomi serta sosial masyarakat secara nyata.

Jika yang maju hanya bermodal uang, koneksi, dan massa—tanpa kapasitas—maka yang terjadi hanyalah kekacauan baru yang membebani rakyat.

Pilkada bukan ajang coba-coba. Apalagi jika taruhan besarnya adalah nasib dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penting bagi para calon untuk mengukur diri sebelum maju. Dan bagi masyarakat, saatnya menjadi pemilih yang cerdas dan kritis. 

Jangan terbuai oleh spanduk dan slogan. Cari tahu rekam jejak, gagasan, dan integritas mereka. Pilih pemimpin karena kualitasnya, bukan karena popularitasnya.

Jika tidak, maka bukan tidak mungkin kita akan kembali terjebak dalam lingkaran pembangunan yang stagnan, kebijakan yang tak menyentuh rakyat, dan kota yang makin semrawut.

Pilkada 2025 harus jadi momentum kebangkitan, bukan ajang dagelan politik. Saatnya memilih dengan hati dan logika. Kabupaten Bangka pantas dipimpin oleh sosok yang benar-benar layak, bukan hanya yang bermodal baliho dan pencitraan semata.

Penulis : M. Yunus | Editor : Tya