Senin, 15 Juni 2026

Program MBG Dinilai Pemborosan, Distribusi Saat Libur Sekolah Diminta Dihentikan Sementara

Adhyaksanews. -- --Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan publik. Sejumlah pihak menilai pelaksanaan program tersebut selama masa libur sekolah sebagai bentuk pemborosan anggaran negara dan mendesak pemerintah menghentikan sementara distribusinya hingga aktivitas belajar mengajar kembali normal.

Kritik tersebut muncul karena sasaran utama Program MBG adalah peserta didik aktif di sekolah. Namun dalam praktiknya, distribusi makanan bergizi tetap berjalan meskipun sekolah sedang libur, sehingga dinilai tidak tepat sasaran dan berpotensi menimbulkan pemborosan dana publik.

Pengamat kebijakan publik menilai, pelaksanaan MBG di hari libur sekolah menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan. Anggaran yang seharusnya dioptimalkan untuk mendukung gizi dan kesehatan siswa justru berisiko terbuang tanpa dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan anak.

“Program ini pada dasarnya baik, tetapi harus dijalankan dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas. Jika sekolah libur, maka distribusi MBG semestinya dihentikan sementara. Jangan sampai anggaran besar negara habis tanpa manfaat yang jelas,” ujar salah seorang pengamat.

Selain itu, sejumlah laporan di daerah juga menyebutkan adanya kendala distribusi, keterlambatan penyaluran dana ke dapur MBG, hingga makanan yang tidak tersalurkan secara optimal. Kondisi ini semakin memperkuat anggapan bahwa pelaksanaan MBG selama libur sekolah tidak efektif.

Masyarakat juga mempertanyakan urgensi tetap menjalankan program tersebut di masa liburan, sementara masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak, seperti perbaikan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, serta penguatan layanan kesehatan dasar.

Pemerintah diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG, khususnya terkait waktu distribusi, mekanisme pengawasan, dan efektivitas penggunaan anggaran. Penyesuaian kebijakan dinilai penting agar tujuan mulia program ini tidak tercoreng oleh praktik yang tidak efisien.

Sejumlah pihak menyarankan agar distribusi MBG kembali diaktifkan secara penuh menjelang masuk sekolah, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peserta didik. Dengan perencanaan yang matang dan pengawasan ketat, Program MBG diharapkan mampu menjadi solusi peningkatan gizi anak tanpa menimbulkan polemik pemborosan anggaran.(*) 

| Editor : Koni Setiadi