Padang, Adhyaksanews. -- --Di saat banyak orang memilih aman dan diam, Teuku Husaini justru berdiri di garis depan. Datang dari Aceh, tanah yang dikenal keras menjaga marwah adat dan agama, ia tampil sebagai suara lantang pembela Adat Minangkabau. Sikapnya tegas, tulisannya tajam, dan pendiriannya sulit digoyahkan.
Bagi Teuku Husaini, adat bukan hiasan budaya atau romantisme masa lalu. Adat adalah sistem nilai, pagar moral, dan penopang peradaban. Keyakinan itulah yang mendorongnya tanpa ragu terlibat langsung dalam perjuangan menjaga adat Minang, meski ia bukan anak kandung ranah itu. Baginya, keberpihakan pada kebenaran tidak ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh keberanian sikap.
Sebagai petualang pemikiran dan editor media, Teuku Husaini terbiasa menghadapi tekanan. Kritik, ancaman, hingga upaya pembungkaman bukan hal asing. Namun justru di sanalah ia menempatkan diri. Pena digunakannya sebagai senjata, media sebagai medan juang. Ia percaya, jurnalistik sejati harus berpihak pada nilai, bukan pada kepentingan.
Dalam setiap tulisannya, Teuku Husaini konsisten mengingatkan bahwa adat Minangkabau bukan barang antik yang disimpan di museum. Adat adalah pedoman hidup yang menuntut keberanian untuk ditegakkan. Prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” harus hidup dalam kebijakan, sikap pemimpin, dan perilaku masyarakat, bukan sekadar slogan di spanduk acara seremonial.
Perjuangannya tidak berhenti pada kritik. Teuku Husaini aktif membangun jejaring advokasi kebudayaan, berdialog dengan tokoh adat, dan mendorong generasi muda agar tidak tercerabut dari akar. Ia lantang menolak komersialisasi adat dan penyimpangan nilai yang dibungkus atas nama modernisasi.
Di mata banyak kalangan, Teuku Husaini adalah sosok yang konsisten dan keras kepala dalam arti positif. Ia tidak mudah berkompromi ketika adat dilecehkan dan kebenaran dibelokkan. Sikap itu membuatnya disegani sekaligus dipersoalkan. Namun ia memilih risiko itu, karena diam baginya adalah bentuk pengkhianatan.
Dari Serambi Mekkah, suaranya menggema ke Ranah Minang. Mengingatkan bahwa adat yang diabaikan akan runtuh perlahan, dan masyarakat yang kehilangan adat akan kehilangan arah. Dalam pusaran pragmatisme politik dan kepentingan sesaat, Teuku Husaini berdiri sebagai pengingat yang tidak populer, tetapi penting.
Teuku Husaini bukan sekadar petualang lintas daerah. Ia adalah penjaga nilai, pengusik kenyamanan, dan suara lantang yang memilih berpihak pada adat ketika banyak orang memilih tunduk pada kepentingan.
| Editor : Koni Setiadi